Jumat, 26 September 2025
PERGESERAN POLA BISNIS DI INDONESIA
Perubahan dunia usaha ini juga berimbas pada perusahaan perusahaan ritel, dimana mulai banyak yg sudah tidak bisa bersaing dan menutup usahanya walau berada di lokasi strategis, hal tersebut disebebkan oleh mudahnya akses pembelian ataupun orderan dengan melalui applikasi android .
Didunia kontraktor, walau tidak berimbas secara langsung , namun kemudahan untuk mengakses data data harga dari semua kebutuhan konsumen menjadikan kontribusi di dunia kontraktor tidak semenarik dulu lagi, disamping banyaknya kompetitor yg murah, juga karena beberapa kompetitor memiliki keunggulan yg tidak dimiliki kontraktor lain yg menjadikan mereka memiliki harga jual yg bagus .
Kedisipilanan dalam hal manajemen dan administrasi proyek merupakan salah satu nilai jual yg patut diperhitungkan lebh lebih bila bisa memodifikasi system manajemen proyek menjadi lebih ringkas akan bisa menghemat waktu dan Uang dalam mengantisipasi pergeseran bisnis yg terjadi .
Ada beberapa pola yg bisa diterapkan dalam mengantisipasi pergeseran pola tersebut diantaranya adalah :
1. Membina hubungan yang sangat baik dengan Customer loyal, yang saat ini mungkin akibat dari kerja sama yg sudah bertahun tahun .Dan menciptakan customer customer baru yang loyal.
2. Merubah pola struktur manajemen di proyek, yang tadinya Struktur organisasi proyek secara keseluruhan adalah bagian dari perusahaan , maka perlu dipilah mana tugas yang bisa dilakukan oleh Subcon yg ikut berpartisipasi didalam mengurangi kerugian prelim akibat panjangnya periode proyek (Contoh pada gambar ).
3. Memiliki kedisiplinan dalam menjalankan prosedur proyek beserta ketertiban andministrasinya merupakan nilai jual yg patut diperhitungkan .
4. Berinovasi dan ikut memodernisasi produk produk yg diperlukan diproyek, terlebih lebih apabila memiliki usaha jual keagenan tunggal di indonesia.
5. Aktif dan terus menerus mendidik personel yg terlibat didunia proyek untuk mengembangkan kreatifitas serta inovasi sebagai pelaku kemajuan jaman yg up to date. Misalnya : ikut dalam proses tender sistem on line, selalu mengupdate data Compro perusahaan di dunia maya, aktif dalam bersosialisasi di Media sosial , menciptakan aplikasi aplikasi untuk kemudahan pelaku proyek dll.
Adanya pergeseran Pola bisnis diindonesia yang berimbas pada semua dunia usaha tidak perlu terlalu dijadikan momok yg membuat kita menjadi tidak kreatif, justru memacu pola pikir agar bisa mengikuti kemajuan yg tidak bisa kita elakkan pada saat ini.
Johar Jakpus 22.Juli 2018
SOFT SKILL
1. Pembelajaran system ini tidak berjalan.
2. Perlu pembelajaran dengan methode lain.
3. Ulasan yg telah disampaikan ini hanya dianggap sebagai junk dan tidak pernah dibaca sedikitpun.
SALAH MENGAMBIL KEPUTUSAN
Baru saja surat dari owner melayang ke Presdir perusahaan, dan dampaknya teguran ke proyek baik berupa surat maupun telp dari tadi tidak putus putusnya berbunyi .
"Ada yg salah dg proyek ini, tapi apa" pikirku .
Sendari pagi perasaanku galau, bahkan tadi tidak sempat sarapan . Yah beginilah nasib seorang project Manager .
Aku diminta membawahi satu project di daerah Kemayoran , diproses ini memang project yg disorot banyak orang, bukan apa apa tapi karena ownernya adalah pemegang saham di perusahaanku bekerja saat ini, tentu saja sedikit saja teguran atau komplain bakal masuk langsung ke meja Presdir.
Kringgg...kring...telp dimeja kerjaku berbunyi , segera kuangkat karena dilayar telp tertulis Presdir ." Sekarang juga keruangan saya..." Instruksi dari seberang sana .
"Baik pak..segera menuju ketempat bapak . " Jawabku sambil meletakkan gagang telp..
Setengah berlari aku menuju ruangan Presdir , sampai didepan pintu beliau nafasku masih tersengal sengal...
"Masuk pak...silahkan duduk..." Presdir perusahaan berkata sambil tetap memperhatikan komputer dimeja kerjanya.
"Iya pak.. " jawabku sambil menarik kursi dan segera saja aku duduk dihadapan beliau .
"Sudah tau apa yg akan saya bicarakan ? " Tanyanya sambil melihat ke arahku dari belakang kacamatanya .
"Sudah pak...saya tadi sudah baca email yg bapak kirim. " Jawabku.
"Trus apa langkahmu memperbaiki keterlambatan waktu pelaksanaan proyek ini.." kata Presdir .
"Besok akan saya meeting kan dg subcon pelaksana pak, sekalian merundingkan langkah langkah apa yg akan kita lakukan, besok akan saya report kan ke bapak.." jawabku..sambil memboiak balik buku agenda yg aku bawa, padahal sendari tadi aku ga tau mau ngapain dg agenda ini...
"Ok..besok saya tunggu laporannya sebelum saya menjawab surat dari owner.." kata. Beliau .
"Siap pak.. ehmm..kalo gitu saya permisi kelapangan dulu untuk merealisasikan ini pak..." Jawabku . Dan beliau pun mengangguk...
"Jadi apa langkah bapak bapak untuk bisa mengejar keterlambatan ini, dan saya tidak mau dengar ada alasan lagi...!!!" Tegas ku di acara meeting subcon . Sebuah meja besar sudah penuh dikelilingi oleh beberapa staff bawahanku, Direktur Subcon bersama managernya dan beberapa Spv yg ikut meeting hari ini . Suasana hening...
Hemm...kalo merasa salah begini ini,pikirku ...
"Tapi pak...maaf kalau saya boleh mengutarakan sesuatu..."tiba tiba ada suara memecahkan keheningan . Dan ternyata Manager subcon .
"Apa pak...segera utarakan sedetail mungkin .." jawabku . Memasang muka garang...
"Sebenernya keterlambatan ini bukan dari permasalahan tenaga kerja kami yg kurang dilapangan pak..." Jawabnya mencoba menerangkan ..
"Lalu apaa!! " Jawabku setengah menghardik...
"Tenaga kerja kami tidak ada yg kami kurangi pak, akan tetapi banyak yg tidak masuk karena melihat material dilapangan tidak ada sebagai lahan kerja mereka.. " jawabnya .
"Lalu material ini tugas siapa...??_ timpalku...
"Material yg kosong saat ini merupakan kewajiban pihak bapak pengadaannya .."jelasnya sambil menunduk dan lirih...
"Apaa. ???. Mana logistik... ??" Tanyaku menyapu seluruh ruangan....namun rona merah di wajahku yg kucoba kusembunyikan semoga saja tidak terlihat di rapat ini...owalah...owalah...
Kadang permasalahan dilapangan yg kita anggap akar permasalahan dari pihak lain , menjadi berbalik menunjuk ke posisi kita apabila kita tidak menguraikan permasalahan secara detail ..untuk mengetahui solusinya yukk kita belajar diagram Ishikawa di web ini.
Selamat belajar..
Icha dan bela 7 Juli 2018
Selasa, 09 Maret 2021
PENIPUAN PROYEK
Rabu, 27 Februari 2019
PERSONEL QHSE
Beberapa petugas QHSE (Qualty Health Safety Environtment) yang ada pada saat ini, terfokus pada masalah K3 lapangan saja, yaitu fokus terhadap ketidak disiplinan penggunaan APD, Pembuatan Rambu rambu di Proyek ataupun Keselamatan dan kesehatan kerja yang lain. Namun sangat kurang terhadap pengawasan Mutu hasil kerja di lapangan dan pantauan terhadap lingkungan.
Beberapa pengamatan yang telah dilakukan, beberapa hal bisa disimpulkan disebabkan :
- Tidak jelasnya Jobdes petugas QHSE dilapangan, sehingga wewenang dan tanggung jawab yang menjadi acuan kerja masih terlihat belum terfahami dengan baik.
- Tidak tersedianya IK (Instruksi Kerja) dilapangan yang bisa dijadikan acuan terhadap Mutu kerja.
- Belum komplitnya IK yang disusun beserta critical list terhadap paket paket pekerjaan , sehingga tidak bisa diterapkan
- Tidak dibekali pengetahuan sebagai personel Auditor dan Kurangnya item pelaporan.
- Belum adanya Prosedur tersendiri atau IK terkait pelaksanaan team QHSE
- Menambah wawasan Petugas QHSE dengan On job training ataupun eksternal training terkait Materi Materi Quality, Health , Safety dan Environtment
- Membuat IK QHSE ataupun prosedur kerja tersendiri personel QHSE
- Memberikan Panduan Instruksi Kerja dan Critical list lapangan tiap paket, bila perlu dalam bentuk Buku saku
- Meeting internal mingguan/bulanan terhadap temuan QHSE tiap proyek .
- Membuat Form temuan discrevancy beserta penanganannya baik yg bersifat sementara maupun permanen.
- Memberikan laporan kepada PM tiap tiap proyek terhadap temuan dan memberikan target waktu penyelesaian temuan .
- Mendapatkan Training sebagai Auditor.
- Menjabarkan Temuan terhadap QHSE pada Safety Talk atau Tools Box Meeting setiap pagi serta menjelaskan pekerjaan yang Benar dan yang seharusnya kepada Pekerja.
Senin, 20 November 2017
MENGHADAPI SUBCON YG NAKAL
Setelah diputuskan oleh team Procurement atau Team P3 , subcon yg memenuhi kriteria melaksanakan pekerjaan, diturunkanlah SPK untuk memulai pekerjaan . Berikut ini typikal Subcon
1. Subcon berserta Material (Subcon Besar)
2. Subcon dengan Material Bantu (Subcon menengah)
3. Subcon upah saja .(Subcon kecil).
Namun pada saat pelaksanaan , terkadang Subcon bermasalah pada cash flow mereka, sehingga beberapa kewajiban tidak terpenuhi. Adanya permasalahan cash flow pada Subcon juga bisa disebabkan adanya kontrak SPK yg Back to Back atau menghadapi PM (Project Manager) yang juga terlambat dalam memproses progres subcon yg dikarenakan beberapa sebab .
Untuk menghadapi permasalahan keterlambatan pembayaran kepada Subcon dilapangan , perlu kita tinjau dari sisi Internal dan Eksternal . Secara Internal artinya perlu pembenahan terhadap perilaku dan prosedur Internal dilapangan baik secara Jobdesc ataupun pembenahan Attitude personel .
Eksternal berarti adanya kendala pembayaran dari Owner yg mana harus ditelaah , adanya penundaan pembayaran owner ini disebabkan oleh kekurangan administrasi lapangan (BA , Drawing dll) ataukah yg murni disebabkan tergangunya cash flow owner .
Penundaan pembayaran Owner kepada kontraktor akan berdampak pada Sub contractor dibawahnya beserta supplier pendukung . Terlebih lagi untuk SPK yg bersifat Back to back, dimana pembayaran terhadap Sub Contractor bisa diturunkan apabila ada pembayaran dari owner .
Terkait pada permasalahan yg dihadapi oleh Subcon, prosedur tetap mengacu kepada Isi kontrak yg telah ditanda tangani bersama, dimana keadaan apapun tetap mengacu pada isi perjanjian legalitasnya.
Ada beberapa Subcon yg pada problem diatas , mengurangi jumlah tenaga kerja, ataupun mengurangi kebutuhan material, untuk menghadapi permasalahan tersebut, maka perlu diambil beberapa langkah berikut:
- Memberikan surat peringatan 1 sampai 2 atas kelalaian yg dilakukan .Beserta sanksi yg termaktub dalam perjanjian kontrak .
- Membuat Final account dan Mapping yg mana data ini juga bisa dipakai untuk menghitung sisa pekerjaan apabila pekerjaan dilimpahkan kepada Sub Contractor lain .
- Apabila tidak mengindahkan instruksi atas peringatan 1 dan 2 Maka sebagai main contraktor bisa memutuskan SPK secara sepihak berserta Sanksi denda yg harus ditanggung oleh Sub contraktor .
- Mencari pengganti Sub Contractor baru dengan Harga acuan dari sisa kontrak Final Account Sub Contractor terdahulu .
Rabu, 14 Juni 2017
CERITA DARI GLODOK
1. Belum adanya monitoring dan control tenaga kerja perlantai perpaket pekerjaan . (Methode)
2. Monitoring material yg dibutuhkan perlantai, persubcon perpaket. (Material,Methode dan Man)
3. Koordinasi dg pihak MK dan Owner kurang harmonis. (Man)
4. Banyaknya perubahan dari shop drawing yg telah diajukan dan sebagian menungu keputusan karena berkaitan dg subcon lain. (Methode)
6. Tenaga pelaksana supervisi yg tidak capable. (Man)
7. Engineer yg tidak capable. (Man)
8. Perubahan design project akibat keinginan customer. (Methode)
9. Kekompakan antar paket pekerjaan yg tidak solid. (Man)
10. Composite yg dituangkan antar paket belum memadai terhadap level plafon. (Methode)
11. Kurangnya tenaga QC dilapangan.(Man).
12. Material sering kurang dan belum adanya schedule material (Material, Man,Methode).
13. Gambar sering terlambat (Methode, Man)
14. Tenaga kerja kurang (Man)
15. Schedule resources tidak ada (Methode).
16. Prosedure sering tidak dijalankan (Man, Methode)
1. Membuat tabel man power kebutuhan dan supplai man power tiap lantai dan tiap paket pekerjaan . Tabel ini memerlukan tingkat kedisiplinan Spv setiap hari untuk mengkontrol dan check serta update. Indikasi tidak ada man power dilapangan terlihat agar tindakan lanjutan bisa dilakukan.
Selasa, 17 Januari 2017
PROYEK BALI
2. Permasalahan External
A. Perpanjangan waktu dg biaya prelim yg belum final .
Yang paling dominan dalam masalah internal adalah efek dari kemunduran pekerjaan dari jangka waktu kontrak 3 bulan menjadi 1 tahun, sangat dirasakan oleh subcon . Mengingat jangka waktu perpanjangan dan belum adanya realisasi pembayaran pembayaran prelim dari owner mengakibatkan berkurangnya secara drastis jumlah personel. Untuk hal tersebut PM harus dg aktif mengirimkan surat kepada owner terkait perpanjangan waktu tersebut.
Setelah mengundurkan diri salah seorang staff dg jabatan SM dilapangan, menjadikan tugas PM semakin berat. Yg tadinya bisa diwakilkan oleh SM untuk meeting engineer ataupun koordinasi ,akhirnya harus dihadiri oleh PM sendiri. PM dan Staff yang ada diproyek ini adalah PM, Drafter merangkap Engineer, SPV ,dan tenaga Admin merangkap SPV yg mana turun pada saat testing dilakukan .
Banyaknya BA test terkait pada paket paket kontrak disamping memerlukan BA yg teliti juga tiap blok site memiliki inspector sendiri sendiri dg kebijakan yg berbeda. Membutuhkan fokus pembuatan BA yg tinggi agar proses approval tidak berulang .
Dukungan supplier sudah seharusnya totalitas dalam pelaksanaan proyek . Salah satu contoh pembuatan Hipmap Wifi dimana keinginan owner terkait optimalisasi posisi Wifi yg memerlukan totalitas dukungan supplier , perlunya PM memilah dan mengambil langkah yg tepat terkait dengan tambahan pekerjaan yg akan dilakukan oleh subcon ataupun supplier untuk mendapat dasar legalitas dalam menurunkan SI (Site Instruction).
A. Owner payment
Lamanya pembayaran owner atas progress yg diajukan akan berdampak pada cash flow project. Seyodyanya pembayaran owner yg kontinyu diharapkan dapat membantu rutinitas pembayaran ke subcon dan supplier.
Adanya approval check BA (berita acara) pada saat pengajuan progress membuat alur approval progress membutuhkan waktu yg lama, belum lagi apabila pada saat pengajuan ada inspector owner yg berhalangan hadir atau tidak bisa melakukan approval dokumen kelengkapan progress. Pada project Bali ini pengajuan awal yg ditujukan kepada inspector bisa dua kali approval setelah LSI melakukan koreksi. Seharusnya hal tersebut tidak diperlukan . Pengajuan progress sampai dengan approval bisa memakan waktu rata rata 1 bulan tiap pengajuan .
Adanya personel dg posisi yg sangat berpengaruh pada kecepatan progress namun pada minggu ke IV setiap bulan cuti, apabila pengajuan progress tepat pada minggu tsb otomatis mundur selama seminggu.
Seringnya JTI menemui hambatan pada saat pelaksanaan adalah disaat operator Hotel dan Owner berbeda persepsi dg pekerjaan yg terpasang. Maka perlunya list pekerjaan yg ditanda tangani kedua pihak sebelum diturunkan ke pihak JTI adalah sangat penting . Sebagai bahan eksekusi pekerjaan dilapangan.
Seringnya meeting dan memutuskan ketetapan pekerjaan yg harus dilaksanakan di lapangan, namun tidak didukung oleh media record ataupun MoM, sehingga apa yg sudah ditetapkan menjadi bahasa verbal yg tidak bisa dipertanggung jawabkan , Sebagai PM dilapangan adalah memastikan pekerjaan dengan instruksi yg jelas (Tidak boleh hanya verbal), untuk hal tersebut bisa dengan meminta Memo lapangan, approval pada shop drawing yg dirubah ataupun media pencatatan yg lain yg terlikuiditas.
F. Sebuah progress dengan 8 buah approval
Melihat sebuah progress dengan 8 buah tanda tangan membuktikan bahwa proses check memakan waktu yg tidak sedikit. tidak effisiensinya proses approval ini bisa dikarenakan kehati hatian owner dalam melakukan proses validitas menuju pembayaran subcon atau bisa juga penundaan pembayaran yg direkayasa .
Seminyak Double six 12.01.2017
Kamis, 06 Oktober 2016
FAKTOR PENGHAMBAT PERCEPATAN PADA PROJECT JABABEKA
Beberapa hal yg menghambat pada proses percepatan proyek Jababeka adalah :
1. Team yg tidak full
Istilah team tidak full disini adalah kekurangan salah satu posisi yg dibutuhkan dalam satu project. Untuk project Jababeka posisi posisi yg kosong tersebut adalah Engineer dan drafter. Ketiadaan personel pada posisi tersebut menjadikan projek tidak prosedural, dimana proses approval desain dan shop drawing yg dibutuhkan dalam pelaksanaan lapangan mis sehingga terjadinya beberapa perubahan instruksi dilapangan, dan terjadinya bongkar pasang pekerjaan menjadi salah satu penghambat lajunya penyelesaian .
2. Penyimpangan yg terlalu jauh antara BQ kontrak dan gambar tender.
Penurunan satu paket pekerjaan yg berdasarkan BQ tanpa memberikan gambar tender akan menjadikan pertanyaan pada saat pelaksanaan lapangan. Adanya beberapa pekerjaan yg akan dianggap sebagai pekerjaan tambah oleh Subcon akan menjadikan penghambat pada pelaksanaan apabila tidak diputuskan segera. Ketiadaan gambar akan menjadikan komparasi status antara BQ dg kondisi terpasang dilapangan. Apabila kondisi terpasang lebih banyak akan menjadikan pengajuan melebihi budget project, apabila tidak diimbangi oleh pengajuan pekerjaan tambah atas deviasi yg terjadi. Untuk hal tersebut dibutuhkan Quality surveyor yg jeli melihat antara BQ dan aktual apalagi pekerjaan tidak bersifat lump sump.
3.Adanya banyak instruksi bypass
Ketiadaan approval atas shopdrawing resmi akan menjadikan gambar gambar lapangan tidak memiliki kekuatan , ditambah apabila ada beberapa gambar yg direvisi maka akan menjadikan lebih komplek, antara penarikan gambar terdahulu dg pendistribusian gambar baru. Biasanya untuk mencoba membenarkan hal tersebut akan ada banyak instruksi by pass ,baik yg akan diinstruksikan oleh konsultan ataupun owner. Dan turunnya SI untuk mengisi kekurangan dari design yg tidak lengkap
4.Akan adanya banyak permintaan material yg salah atau kurang.
Desain yg tidak akurat dan adanya beberapa kali revisi akan mengakibatkan banyaknya permintaan material yg salah atau bahkan kurang, hal tersebut berpengaruh sekali pada waktu pelaksanaan project, apalagi project dg tenggat waktu yg singkat. Sampai akhir proyek akan banyak dikeluarkan S.I , banyaknya Material yg berlebihan serta adanya material yg tidak diperlukan. Untuk mengurangi hal tersebut perlunya team logistik yg kuat, bahkan yg bisa memenuhi permintaan dalam waktu jam saja. Adanya konsep konsep inventory menjadi tidak berlaku.
5.Sepenuhnya mengandalkan team konsultan
Konsultan adalah team yg sangat dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan yg diinstruksikan, terlepas adanya gambar atau tidak,akhirnya menjadikan team konsultan sebagai pengawas project secara langsung. Keberadaan PM akan menjadikan pelengkap antara kebutuhan pekerja lapangan dan ketersediaan material dilapangan.
6.Penambahan pekerjaan tanpa memperpanjang waktu pelaksanaan
Turunnya instruksi instruksi yang diturunkan dengan status Urgent tanpa menambah jangka waktu pelaksanaan , akan mempengaruhi pos pos pekerjaan yg lain terlebih lagi adanya pekerjaan tambahan tersebut tanpa menambah personel..
7.Koordinasi SIPIL dan ME
Dalam pelaksanaan proyek koordinasi antar paket pekerjaan sangat penting, terlebih lagi bila dalam satu pekerjaan terkait banyak pekerjaan, biasanya kita bagi dalam paket ME dan sipil. Pada prosesnya kendala kendala dan urutan pekerjaan harus lebih jelas terkait paket yg termaktub dalam pekerjaan. Urutan pekerjaan skala prioritas dan tgl finish menjadi awal pelaksanaan paket setelahnya, terkait dengan pengadaan material harus sudah berada didalam plan schedule.
Ditulis di Jababeka I .
25.10.2016
Jumat, 30 September 2016
CERITA DARI JABABEKA
Pertama kali diterjunkan di proyek ini berat rasanya, karena harus mengikuti aturan K3 yg berbelit belit seperti kudu ganti sepatu safety, ikut TBM , induksi, harus kontrol dan keliling pabrik yg luas, menemui debu bongkaran yg gatal ..hemm sebuah tantangan.
Setelah bertahan 3 hari baru terasa ritme kerja dari team yang belum kompak , yang merupakan salah satu target yg harus diselesaikan .
Dengan beberapa kali terjadinya penurunan jumlah tenaga kerja juga menjadi perhatian , belum lagi ditambah adanya jam coffe break yang sama sekali tidak berguna, mengapa ? Karena masuk jam 08.00 setelah itu break jam 10.00 lalu istirahat jam 11.30 , pikir saja berapa waktu yg terbuang, padahal project ini fast track dimana waktu tinggal sebulan lagi.
Melihat beberapa hal seperti :
1. Progress yg lambat kenaikannya.
2. Material yg lama datangnya .
3. Sequence kerja yg tidak berurutan dan saling tunggu.
4. Man power yg kurang dan tidak skill
5. Tenaga supervisi yg minim
6. Koordinasi dg pihak konsultant dan owner yg buruk.
7. Peralatan kerja yg kurang
8. Fasilitas kerja yg minim.
9. Ijin kerja yg lama, untuk mengajukan ijin kerja pemasangan fire fighting harus drain air di pipa, dan ijin harus dimintakan minim 2 hari dari tanggal pelaksanaan.
10. Adanya beberapa area yg belum putus dari segi desain sampai rev ke 22.
11. Turunnya beberapa S.I yang mempengaruhi interval waktu kontrak utama
12. Pekerjaan ini adalah renov, dalam kata lain kita harus membongkarnya terlebih dahulu baru membangun yg baru.
Beberapa subcon berkerja seperti keong, membuat otak dan pikiran jadi stress....
Melihat situasi demikian ,setelah menguraikan beberapa situasi yg dianggap mempengaruhi interval dan ritme kerja langkah langkah yg diambil diantaranya adalah sbb :
1. Progres yang lambat kenaikannya .
Mungkin perlu melihat lagi secara keseluruhan dari paket yg kita terima, mapping pada setiap paket amatlah sangat diperlukan, sehingga diketahui paket pekerjaan yg mana, yg perlu mendapat perhatian. Uraikan permasalahan dengan theory Fishbone diagram dan temukan kesalahan utama. Namun dari sisi perhitungan BQ juga perlu direview apakah ada kesalahan aritmetik dalam memasukkan angka angka, terutama melihat kembali apakah ada MoS pada kesepakatan kontrak yg bisa mendongkrak progres tersebut.
2. Material yg lama datangnya.
Melihat permasalahan klasik ini rasanya selalu ada dalam setiap project, apakah itu terkait dengan masalah pembayaran Subcon ataupun kesalahan team logistik dalam systematis kerjanya, memang sudah seharusnya permasalahan keterlambatan material ini diminimize agar laju percepatan pekerjaan di project tidak terhambat. Yg lebih penting lagi adalah bagaimana team lapangan dalam menjabarkan BQ dan gambar sehingga permintaan material bisa akurat .
3.Sequence kerja yg tidak berurutan dan saling tunggu.
Sequence kerja adalah hal yg sangat penting dalam pelaksanaan proyek. Untuk hal ini diperlukan kepiawaian seorang PM bagaimana mengurutkan pekerjaan pada action plan, baik action plan mingguan, bulanan, bahkan dalam action plan keseluruhan. Adanya ketelitian dalam membaca Curva S baik dalam menguraikan sequence per sequence juga harus melihat item item pekerjaan instalasi dan equipment.
Adanya area bongkaran dalam kontrak dalam beberapa paket pekerjaan sebaiknya dipisahkan pada beberapa subcon.
Paket bongkaran masuk dalam pekerjaan subcon adalah hal yg menjadikan subcon saling tunggu,saling tunjuk,dan saling menyalahkan. Perlu dirubah system kedepan dimana paket bongkaran seharusnya menjadi satu paket pekerjaan tersendiri .
4.Man power yang kurang dan tidak skill
Sudah menjadi kebiasaan , dalam memenuhi jumlah pekerja dan mengejar angka yg diharapkan oleh owner, terkadang mandor mangambil tenaga yg unskill ,selain jumlahnya yg kurang terutama dalam pekerjaan fast track , skill pekerja yg tidak mumpuni juga mengakibatkan progress berjalan sangat lambat, ada baiknya kita bisa membuka mata para subcon bahwa banyaknya tenaga kerja tanpa skill adalah pemborosan . Kecuali pekerjaan itu banyak yg tidak memerlukan tenaga skill seperti pekerja pengangkut ataupun tenaga kasar seperti kebersihan. Tapi apakah perlu sebanyak itu. Hal ini yg perlu di review.
5. Tenaga supervisi yg minim
Dalam hal pengadaan tenaga skill sebenernya berbanding lurus dengan pengadaan supervisi, yg mengarahkan sesuai shop drawing ataupun squence kerja yg dibutuhkan. Tenaga supervisi yg minim sama dengan kita mengerahkan jumlah tenaga yg banyak tapi unskill .
6.Koordinasi dengan pihak Konsultant dan Owner.
Salah satu unsur dalam manajemen proyek yg penting adalah Manajemen komunikasi, Manajemen komunikasi tidak hanya di harfiahkan dalam komunikasi verbal namun instruksi instruksi dalam bentuk memo, site memo,surat masuk, form form termasuk dalam manajemen komunikasi. Kurangnya komunikasi dan koordinasi dengan pihak Konsultant dan Owner menjadikan miss dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain itu hal yg penting adalah pelaporan pihak kontraktor ke Owner diantaranya laporan harian,mingguan,bulanan dll agar komunikasi berjalan dua arah .
7. Peralatan kerja yg kurang
Banyaknya pekerja tanpa peralatan yg dibutuhkan, ataupun saling pinjam antar pekerja merupakan salah satu penghambat dalam percepatan pelaksanaan proyek.
8. Fasilitas kerja yg kurang
Fasilitas kerja kita bedakan dengan peralatan kerja, fasilitas kerja bisa berarti hal hal yg ikut menunjang suatu pekerjaan seperti lampu kerja,listrik kerja, scafolding, catwalk, dll. Bayangkan saja ada pekerjaan diketinggian namun kurang atau bahkan tidak ada scafolding. Mungkinkah pekerjaan tersebut bisa dilaksanakan. Pengadaan scafolding ditiap area akan memudahkan pekerja melakukan pekerjaan di area ketinggian. Namun ingat untuk safety tetap gunakan bodyharnes dan itu juga merupakan fasilitas kerja.
9.Ijin kerja
Kita harus bisa memprediksi berapa lama sebuah ijin kerja yg dikeluarkan oleh pihak owner, seandainya ijin kerja diperlukan 2 hari ,maka untuk melakukan pekerjaan yg memerlukan ijin kerja, ijin kerja dimasukkan H-2.
10.Area yg belum final dari sisi desain
Perlunya koordinasi dan komunikasi intensif dengan pihak konsultan dan owner dalam mengatasi hal ini. Adanya desain yg mempengaruhi waktu pelaksanaan perlu untuk dilayangkan surat permohonan pengunduran waktu pelaksanaan.
11.Turunnya beberapa S.I yang baru
Bukannya kita tidak suka dengan turunnya S.I , karena turunnya SI identik dengan penambahan pemasukan bagi perusahaan, namun perlu diperhatikan, apakah turunnya SI mempengaruhi waktu pelaksanaan . Apabila Ya maka kita wajib meminta penambahan waktu penyelesaian.
12. Proyek Renovasi
Ada kelebihan dan kekurangan untuk proyek renovasi , yaitu pada masalah pembongkaran bangunan ataupun instalasi yg lama. Proyek renov memiliki tingkat kesulitan yg jauh lebih tinggi terlebih lagi apabila pengaturan sequence pelaksanaan yg buruk . Apabila salah yg harusnya tidak dibongkar bisa menjadi terbongkar. Namun ada sisi keuntungannya juga yaitu material yg bisa digunakan bisa kita manfaatkan untuk mengurangi biaya pengadaan material,namun tentu saja semua harus dengan ijin owner dalam pelaksanaannya .
Jababeka 1 cikarang industrial park
Sabtu, 03 Oktober 2015
DONT PANIC GUYS....SEMUA MASALAH DISELESAIKAN ONE BY ONE
Tidak ada satu keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan dengan kepanikan .Bisa bisa malah merugikan diri sendiri dari tindakan yang dilakukan dengan Panik .Ambil contoh seperti Cerita dibawah ini :
Dua orang saling bersahabat sedang jalan jalan menuju puncak, Sebut saja Tono dan Toni. Mereka berdua menaiki kendaraan Mobil dengan kecepatan 80 KM per Jam. Dan kebetulan yang menjadi Driver pada saat itu adalah Tono dan mereka melakukan bergantian .
Waktu telah menunjukkan jam 22.00 WIB , dan perjalanan mereka sepertinya akan sampai pada tujuan mereka yaitu Sebuah Villa .
" AYo Tono..buruan Gas nya...udah malem banget Nih..." ujar Toni sambil melihat Jam dipergelangan .
Tikungan yang kesekian Tono mempercepat laju kendaraan sampai 120 KM/Jam .
Lalu Tiba Tiba.....Seorang gadis berpakaian mini melintas.....citttttttttttttttttttttt...brakkkkk.....Derit ban di rem terdengar nyaring . Dan tampak Tono wajahnya Pucat pasi menghadapi kejadian tersebut .
"Kita kabur aja ya Toni....." Kata tono setengah berbisik ..."Gue kalap nih...." timpalnya lagi.....
Posisi paniknya Tono tersebut , tidak akan menemukan jalan keluar yang baik, dalam pikirannya hanya terbersit satu tindakan yang menguntungkan dirinya pada saat itu . Namun apa yang bisa kita tangkap dari pemikiran Toni .
"Sebaiknya Jangan kabur Tono...mending kita pinggirkan kendaraan...dan kita lihat Korban, apakah bisa kita selamatkan ..." Toni berucap, Dan seperti itulah Pemikiran Orang yang tidak dalam kondisi menghadapi masalah .
Ada beberapa hal dari pemikiran Toni yang bisa kita temukan akhir ceritanya , adalah :
- Dengan melihat korban dan bukan melarikan diri, maka akan bisa diputuskan apakah Korban bisa dibawa kerumah sakit untuk dilakukan pertolongan , Seandainya masih sempat tertolong maka penyelesaian secara musyawarah bisa dilakukan ..
- Apabila melarikan diri, akan tetap mempertanggungkan perbuatan tersebut bahkan dengan sanksi yang lebih berat . Kalaupun bisa terlepas dari sansi polisi belum tentu bisa terlepas dari perasaan bersalah yang akan dibawa seumur hidup .
Pepatah seorang Tukang Jahit : Mengukur sepuluh kali baru memotong sekali ...Jadi jangan Mengukur sekali dan memotong sepuluh kali, bisa bisa tidak pernah jadi akhirnya ..
Goodluck Gaess.....
Johar 10, habis makan siang ama nasi padang .....14.06 wib
Jumat, 02 Oktober 2015
PROJECT MANAGER YANG BELAJAR MANAJEMEN PROYEK
Kalau dibilang project manager
baru tapi kok sudah pernah memimpin
beberapa proyek dengan sukses dan
menghasilkan contribusi yg
cukup besar, tapi begitu diminta untuk menjabarkan
manajemen proyek
jawabannya masih ba..bi..bu...
Sampai suatu ketika para direksi
berembuk tentang akan masuknya tenaga asing yang akan menjadi Project project
manager pada proyek proyek diindonesia, terlintaslah pemikiran untuk
memberikan pelatihan dan sertifikasi pada Project Manager di perusahaan .
PELATIHAN
What is the Project ?. sang
instruktur memberikan pertanyaan, yang dijawab dengan keheningan seluruh isi
kelas dan saling berpandangan sesama....semenit..dua menit...hening dan ga ada
yg bisa...saking gemesnya akhirnya sang instruktur menjabarkan apa maksud
dari sebuah Proyek .
|
|
Sebuah
proyek adalah sebuah kegiatan atau proses yang dibatasi oleh waktu, dan
memiliki keunikkan dimana tidak ada sebuah proyek yang sama .
Mendengar ulasan sang instruktur
semua para PM manggut manggut karena selama ini mereka hanya tahu kerja yang
namanya proyek tanpa tahu apa definisi proyek yang sebenarnya...trus siapa
yang salah..? ya tidak ada yang salah....selama para PM tersebut tetap
memberikan kontribusi keuntungan kepada perusahaan , tapi bila jawabannya
efektifkah sudah selama ini, mungkin itu yang harus dicari jawabnnya....
MELIHAT
SUMBER MASALAH DITEMPAT YANG SALAH
Kontribusi
dari setiap proyek dengan para Project managernya (dalam tanda kutip) memang
berbeda beda walau target yang ditetapkan perusahaan sebesar minimum 10%
sering terlampaui, tapi coba direnungkan seandainya PM tersebut menguasai
ilmu manajemen yg dari tadi instrukturnya berusaha memancing suasana agar
para PM benar benar mengerti tentang apa yg diuraikan.
Namun sebagai catatan ada memang
beberapa proyek yang tersandung dianggap rugi dan menimbulkan efek tidak
berlanjutnya Customer menggunakan Jasa perusahaan pada proyek selanjutnya ,
trus kalau sudah sesperti itu siapa yang disalahkan ?. Sudah pasti Proyek dan
orang orangnya...Kenapa terlambat, Kenapa salah hitung, kenapa salah pasang,
kenapa orangnya sedikit, kenapa ga ada schedule....dan mungkin sejuta kenapa
kenapa lagi yang dilontarkan kepada PM .
Bila PM sudah membuat Planning
yang baik dengan acuan BQ kontrak yang dia terima, diutak atik smalaman
hinggga jadi S-Curve yang membiru pada awalnya dan setelah itu memerah karena
progressnya terlambat, dan para subcon berteriak sampai ke SMS, BBM dan
Whatsaap .
Rasanya kalau menjatuhkan Vonis
begitu saja kepada PM seperti mencari ikan di lapangan bola. Bila system
Material yang mendatangkan adalah PMO, yang memilih SUBCON juga PMO (Project
Manager Office) , lalu salahnya PM tanpa O dimana ?.
Coba kita mulai berhitung tentang
waktu Lead time sebuah proses dari penerbitan SPPB saja dulu ... terus siapa
yang mencatat berapa lama...Lalu adakah yang perhatikan masalah tersebut
sebelum pindah kepada root cause yang lain ?
BEBERAPA PENYEBAB KETERLAMBATAN YANG SALING TERKAIT bila melihat urutan proses dari pembuatan RAPP berlanjut kepada pemilihan subcon , pembelian material dan ekesekusi dilapangan maka beberapa faktor berikut adalah faktor faktor yang sangat berpengaruh pada percepatan pelaksanaan Project :
BEKERJA DENGAN SMART Menemukan beberapa kendala seperti itu adalah tantangan untuk menyelesaikan . Menggunakan filosophy SMART untuk pemecahan masalah tersebut sangat tepat . Terus..apa yang dimaksud dengan SMART itu sendiri adalah :
Beberapa kasus memang bisa diselesaikan dengan beberapa metode dan akan dijabarkan dalam penjelasan berikutnya . Sekarang istirahat dulu ya....
Malam sabtu 18.09.2015 Kebon Sirih
deket OCHA dan BELLA
| |

