Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2025

PERGESERAN POLA BISNIS DI INDONESIA

Pada saat ini, Sejak maraknya dunia usaha online di indonesia , beberapa pola konsumtif di masyarakat juga ikut bergeser, dimana tadinya kalau mau mengkonsumsi makanan yang agak aneh sedikit harus berangkat menuju tempat dimana dia buka maka skg sudah tidak perlu demikian, cukup buka Android dan pesan, begitu juga dalam hal pembelian barang dan kebutuhan jasa , tinggal buka android langsung pesan .

Perubahan dunia usaha ini juga berimbas pada perusahaan perusahaan ritel, dimana mulai banyak yg sudah tidak bisa bersaing dan menutup usahanya walau berada di lokasi strategis, hal tersebut disebebkan oleh mudahnya akses pembelian ataupun orderan dengan melalui applikasi android .

Didunia kontraktor, walau tidak berimbas secara langsung , namun kemudahan untuk mengakses data data harga dari semua kebutuhan konsumen menjadikan kontribusi di dunia kontraktor tidak semenarik dulu lagi, disamping banyaknya kompetitor yg murah, juga karena beberapa kompetitor memiliki keunggulan yg tidak dimiliki kontraktor lain yg menjadikan mereka memiliki harga jual yg bagus .

Kedisipilanan dalam hal manajemen dan administrasi proyek merupakan salah satu nilai jual yg patut diperhitungkan lebh lebih bila bisa memodifikasi system manajemen proyek menjadi lebih ringkas akan bisa menghemat waktu dan Uang dalam mengantisipasi pergeseran bisnis yg terjadi .

Ada beberapa pola yg bisa diterapkan dalam mengantisipasi pergeseran pola tersebut diantaranya adalah :

1. Membina hubungan yang sangat baik dengan Customer loyal, yang saat ini mungkin akibat dari kerja sama yg sudah bertahun tahun .Dan menciptakan customer customer baru yang loyal.

2. Merubah pola struktur manajemen di proyek, yang tadinya Struktur organisasi proyek secara keseluruhan adalah bagian dari perusahaan , maka perlu dipilah mana tugas yang bisa dilakukan oleh Subcon yg ikut berpartisipasi didalam mengurangi kerugian prelim akibat panjangnya periode proyek  (Contoh pada gambar ).

3. Memiliki kedisiplinan dalam menjalankan prosedur proyek beserta  ketertiban andministrasinya merupakan nilai jual yg patut diperhitungkan .

4. Berinovasi dan ikut memodernisasi produk produk yg diperlukan diproyek, terlebih lebih apabila memiliki usaha jual keagenan tunggal di indonesia.

5. Aktif dan terus menerus mendidik personel yg terlibat didunia proyek untuk mengembangkan kreatifitas serta inovasi sebagai pelaku kemajuan jaman yg up to date. Misalnya : ikut dalam proses tender sistem on line, selalu mengupdate data Compro perusahaan di dunia maya, aktif dalam bersosialisasi di Media sosial , menciptakan aplikasi aplikasi untuk kemudahan pelaku proyek dll.


Adanya pergeseran Pola bisnis diindonesia yang berimbas pada semua dunia usaha tidak perlu terlalu dijadikan momok yg membuat kita menjadi tidak kreatif, justru memacu pola pikir agar bisa mengikuti kemajuan yg tidak bisa kita elakkan pada saat ini.


Johar Jakpus 22.Juli 2018

SOFT SKILL

Dear All

Media yg saya ulas ini sengaja tidak saya share ke beberapa teman lainnya dengan tujuan sebagai media contoh kasus dalam pembinaan mental dan pemberdayaan softskill individual,  namun apabila dalam pelaksanaannya sama sekali tidak memberikan kontribusi apapun dalam hal pembinaan softskill personel, maka sudah bisa dipastikan bahwa :
1. Pembelajaran system ini tidak berjalan.
2. Perlu pembelajaran dengan methode lain.
3. Ulasan yg telah disampaikan ini hanya dianggap sebagai junk dan tidak pernah dibaca sedikitpun.

Mungkin sedikit banyak sebagian rekan rekan ada yg tau apa yg telah diulas,  walaupun demikian ulasan tersebut diharapkan memberikan refreshing terhadap ilmu yg telah diperoleh.

Adapun ulasan yg sering di ulas berkisar masalah softskill dan bukan hardskill yang menjadikan pertimbangan hal tersebut karena dalam lingkungan kerja kesuksesan itu sebagian besar ditunjang oleh softskill yang baik.

Sebelum kita membahas softskill kedua (yg pertama sudah diulas tentang leadership) maka saya rasa perlu kembali memberikan ulasan mengenai softskill tersebut guna bisa benar benar difahami secara utuh.

Soft skill adalah suatu kemampuan, bakat, atau keterampilan yang ada di dalam diri setiap manusia. Soft skill adalah kemampuan yang dilakukan dengan cara non teknis, artinya tidak berbentuk atau tidak kelihatan wujudnya.  Namun , softskill ini dapat dikatakan sebagai keterampilan personal dan inter personal.

Yang dimaksud softskill personal adalah kemampuan yang di manfaatkan untuk kepentingan diri sendiri. Misalnya, dapat mengendalikan emosi dalam diri,  dapat menerima nasehat orang lain, mampu memanajemen waktu, dan selalu berpikir positif. Itu semua dapat di kategorikan sebagai softskill personal.

Kemudian yang dimaksud softskill inter personal adalah kemampuan yg dimanfaatkan untuk diri sendiri dan orang lain. Contohnya,  kita mampu ber hubungan atau ber interaksi dengan orang lain, bekerja sama dengan kelompok lain, dan lain lain.

Nah, softskill juga harus di iringi dengan hardskill, karena kita hidup tidak boleh hanya mempunyai softskill yang berkualitas saja, tapi hardskill kita perlu diperhatikan. Dengan memiliki hardskill yang baik, kita bisa menjadi manusia yang berkualitas. Misalnya, kita di sekolahkan oleh orang tua kita, kita akan memiliki ilmu pengetahuan, nah ilmu tersebut akan kita gunakan dalam kehidupan kita nanti, oleh karena itu, hardskill dan softskill yang seimbang dapat menumbuhkan jiwa/pribadi yang berkualitas

Soft Skill atau keterampilan lunak menurut Berthhall (Diknas, 2008) mendefinisikan soft skill sebagai“personal and interpersonal behaviour that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making, initiative).” merupakan tingkah laku personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia (melalui pelatihan, pengembangan kerja sama tim, inisiatif, pengambilan keputusan lainnya. Keterampilan lunak ini merupakan modal dasar peserta didik untuk berkembang secara maksimal sesuai pribadi masing-masing.

Menurut Kamus wikipedia (2009) mendifinisikan soft skill sebagai :
“sociological term relating to person’s emotional quotient, the cluster of personality traits, social graces, communication, language, personal habits, friendliness, and optimism that characterized reletionships with other people.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa soft skill adalah perilaku individu yang tidak terlihat wujudnya dan bersifat personal maupun interpersonal yang dapat berkembang dan meningkatkan kualitas diri seseorang.

Soft skill merupakan keterampilan diluar keterampilan teknis dan akademis, dan lebih mengutamakan keterampilan intra dan inter personal. Keterampilan intra personal mencakup kesadaran diri (kepercayaan diri, penilaian diri, sifat dan preferensi, serta kesadaran emosi) dan keterampilan diri (peningkatan diri, pengendalian diri, manajemen sumber daya, pro aktif). Sedangkan keterampilan inter personal mencakup kesadaran sosial (kesadaran politik, memanfaatkan keragaman, berorientasi pelayanan) dan keterampilan sosial (kepemimpinan, pengaruh, komunikasi, kooperatif, kerja sama tim, dan sinergi). Soft skillmumpuni mutlak harus dimiliki oleh manusia sebagai modal untuk mengarungi berbagai bidang kehidupan seperti pekerjaan, rumah tangga, organisasi masyarakat, dan lain-lain. Sebagai contoh, di dunia kerja dalam proses perekrutan karyawan baru, keterampilan teknis (hard skill) lebih mudah diseleksi berdasarkan daftar riwayat hidup, indeks prestasi, pengalaman kerja dan berbagai keterampilan yang dikuasai. Sedangkansoft skill dievaluasi berdasarkan psikotest dan wawancara mendalam. Hasil dari psikotest tersebut akan digunakan perusahaan untuk menempatkan karyawan di posisi yang tepat. Dewasa ini, semua perusahaan mensyaratkan adanya kombinasi yang seimbang antara hard skill dan soft skill untuk semua posisi karyawan. 

Pendekatan hard skill dianggap sudah tidak efektif, percuma saja jika hard skill baik tapi soft skill nya buruk. Perusahaan akan lebih memilih calon karyawan yang memiliki kepribadian dan karakter lebih baik walaupun tidak ditunjang hard skill yang mumpuni. Alasannya jelas, karena melatih keterampilan teknis jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter seseorang. Dengan kata lain, hard skill merupakan faktor penting bagi manusia dalam bekerja, tetapi keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skill yang lebih baik.

Perlu untuk diketahui bahwa soft skill bukanlah sesuatu yang stagnan. Keterampilan ini dapat diasah dan ditingkatkan seiring dengan bertambahnya pengalaman seseorang. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan soft skill, yang paling terkenal adalah learning by doing. Mengikuti berbagai pelatihan dan seminar juga dapat meningkatkan soft skill. Namun, diluar itu semua, ada satu cara yang paling ampuh untuk meningkatkan soft skill yaitu dengan lebih sering berinteraksi dan beraktifitas dengan orang lain. Mengingat pentingnya soft skill dalam kehidupan kita, maka marilah kita tingkatkan soft skill demi kehidupan yang lebih baik.

Perlu juga diketahui bahwa PT.Pembangunan Jaya setiap tahun memgumpulkan beberapa karyawan untuk ikut serta dalam pelatihan AMW yg selama ini cukup efektif. Pelatihan ini tidak membahas masalah hardskill tapi membahas masalah softskill,  mungkin ada beberapa orang disini yg pernah ikut pelatihan tersebut.

Jadi saking pentingnya softskill ini bagi perusahaan sehingga menjadikan satu modul yg di trainingkan dalam Group PT.Pembangunan Jaya.
To be continued.....to Softskill yg kedua Bagaimana mengambil keputusan dengan tepat.

SALAH MENGAMBIL KEPUTUSAN

Baru saja surat dari owner melayang ke Presdir perusahaan, dan dampaknya teguran ke proyek baik berupa surat maupun telp dari tadi tidak putus putusnya berbunyi .
"Ada yg salah dg proyek ini, tapi apa" pikirku .
Sendari pagi perasaanku galau, bahkan tadi tidak sempat sarapan . Yah beginilah nasib seorang project Manager .

Aku diminta membawahi satu project di daerah Kemayoran , diproses ini memang project yg disorot banyak orang, bukan apa apa tapi karena ownernya adalah pemegang saham di perusahaanku bekerja saat ini, tentu saja sedikit saja teguran atau komplain bakal masuk langsung ke meja Presdir.

Kringgg...kring...telp dimeja kerjaku berbunyi , segera kuangkat karena dilayar telp tertulis Presdir ." Sekarang juga keruangan saya..." Instruksi dari seberang sana .
"Baik pak..segera menuju ketempat bapak . " Jawabku sambil meletakkan gagang telp..

Setengah berlari aku menuju ruangan Presdir , sampai didepan pintu beliau nafasku masih tersengal sengal...
"Masuk pak...silahkan duduk..." Presdir perusahaan berkata sambil tetap memperhatikan komputer dimeja kerjanya.
"Iya pak.. " jawabku sambil menarik kursi dan segera saja aku duduk dihadapan beliau .
"Sudah tau apa yg akan saya bicarakan ? " Tanyanya sambil melihat ke arahku dari belakang kacamatanya .
"Sudah pak...saya tadi sudah baca email yg bapak kirim. " Jawabku.
"Trus apa langkahmu memperbaiki keterlambatan waktu pelaksanaan proyek ini.." kata Presdir .
"Besok akan saya meeting kan dg subcon pelaksana pak, sekalian merundingkan langkah langkah apa yg akan kita lakukan, besok akan saya report kan ke bapak.." jawabku..sambil memboiak balik buku agenda yg aku bawa, padahal sendari tadi aku ga tau mau ngapain dg agenda ini...
"Ok..besok saya tunggu laporannya sebelum saya menjawab surat dari owner.." kata. Beliau .
"Siap pak.. ehmm..kalo gitu saya permisi kelapangan dulu untuk merealisasikan ini pak..." Jawabku . Dan beliau pun mengangguk...

"Jadi apa langkah bapak bapak untuk bisa mengejar keterlambatan ini, dan saya tidak mau dengar ada alasan lagi...!!!" Tegas ku di acara meeting subcon . Sebuah meja besar sudah penuh dikelilingi oleh beberapa staff bawahanku, Direktur Subcon bersama managernya dan beberapa Spv yg ikut meeting hari ini . Suasana hening...
Hemm...kalo merasa salah begini ini,pikirku ...
"Tapi pak...maaf kalau saya boleh mengutarakan sesuatu..."tiba tiba ada suara memecahkan keheningan . Dan ternyata Manager subcon .
"Apa pak...segera utarakan sedetail mungkin .." jawabku . Memasang muka garang...
"Sebenernya keterlambatan ini bukan dari permasalahan tenaga kerja kami yg kurang dilapangan pak..." Jawabnya mencoba menerangkan ..
"Lalu apaa!! " Jawabku setengah menghardik...
"Tenaga kerja kami tidak ada yg kami kurangi pak, akan tetapi banyak yg tidak masuk karena melihat material dilapangan tidak ada sebagai lahan kerja mereka.. " jawabnya .
"Lalu material ini tugas siapa...??_ timpalku...
"Material yg kosong saat ini merupakan kewajiban pihak bapak pengadaannya .."jelasnya sambil menunduk dan lirih...
"Apaa.  ???. Mana logistik... ??" Tanyaku menyapu seluruh ruangan....namun rona merah di wajahku yg kucoba kusembunyikan semoga saja tidak terlihat di rapat ini...owalah...owalah...

Kadang permasalahan dilapangan yg kita anggap akar permasalahan dari pihak lain , menjadi berbalik menunjuk ke posisi kita apabila kita tidak menguraikan permasalahan secara detail ..untuk mengetahui solusinya yukk kita belajar diagram Ishikawa di web ini.

Selamat belajar..
Icha dan bela 7 Juli 2018

Selasa, 09 Maret 2021

PENIPUAN PROYEK

PENIPUAN DAN KOMPLOTANYA PADA PROYEK 

Sekedar sharing dan berbagi info mengenai Modus Modus penipuan Projek yang marak dan saya alami sendiri, Agar para sahabat berhati hati dalam Menginfokan Projek projek... karena tetap pada kasusnya akan merepotkan para sahabat sendiri walau hanya sebatas saksi.. malah bisa juga dimasukan kepasal "turut serta atau bersekongkol" walaupun pada kenyataannya rekan rekan mediator hanya sebatas memediasi tapi malah jadi pihak yang terlaporkan pertama karena yang menawarkan projek tersebut...

1 - Modus Cari investor / take Over projek
pelaku awal menyiarkan kepada para mediator bahwa PTnya butuh kontraktor... setelah ketemu akan berubah butuh investor kerjasama karena pelaku dapat SPK yg mana SPK itu dikeluarkan Oleh PT komplotannya sendiri dan minta sejumlah uang kepada kontraktor dengan alasan untuk " Orang Dalam", agar segera keluar SPMK.. dan mulai kerja. Untuk kasus seperti ini memang ada yg bener bener real proyeknya, akan tetapi harus melihat dokumen pendukung lainnya apabila memang berminat pada proyek tsb selama bisa membuktikan orang dalam benar duduk dalam kepengurusan perusahaan, tapi bagaimanapun skema pemilihan kontraktor sudah menyimpang, akan tapi selaku owner Proyek sah sah saja.

2- Modus cari Kontraktor yang bersedia manaruh sejumlah Uang dengan Alasan untuk " Landing account"
karena katanya wajib ada direkening bersama tersebut sejumlah nilai tertentu, Rekening bersama tidak sepenuhnya aman dalam transaksi, mengingat pada umumnya dibutuhkan 2 specimen tanda tangan untuk penarikan sejumlah dana. Yang paling sering terjadi adalah salah satu tidak bersedia menandatangani apabila sudah terjadi konflik, dan tentu saja menjadi kasus perdata . Bisa juga dengan dalih uang Provisi sebelum dana diturunkan oleh investor, apabila skema ini yg dipilih maka perlu mengajak Bank konsultan sehingga proses yg dijalankan benar benar BO to BO, atau bank officer ke bank officer , karena Bank officer akan memberikan saran ataupun warning apabila proses tidak sesuai prosedur bank .

3- Modus Take OVer projek LPSE ...
mereka rapi mengatur Seolah Olah merekalah Orang PT yg dapat Projek tersebut dan PT serta projek yg dipalsukan memang Real projek yg memang Jelas dan PT yg dipalsukan tersebut memang pemenang di LPSE... modus mereka Menjadi Figur yg mengaku Dari PT tersebut, untuk kasus LPSE ini lebih mudah apabila perusahaan yg berminat untuk Take Over melakukan pengecekkan SPPBJ . Dan hal itu bisa dilakukan secara online sebelum melakukan pembayaran terhadap Perusahaan pemenang, dan tentu saja beserta penandatanganan Kuasa direksi di notaris yg ditunjuk . 

4- Modus Uang Jaminan Pelaksanaan...
Dengan Alasan Takut Kontraktornya Gak Punya modal, maka Owner proyek mensyaratkan sejumlah dana sebagai Jaminan Pelaksanaan (JamPel) padahal yg benar  Counter terhadap Uang Muka (DP) cukup dengan Asuransi atau DP di counter BG dari kontraktor. Untuk memastikan bahwa kontraktor punya modal untuk pelaksanaan memang bisa dilakukan dengan beberapa cara, termasuk pengecekan rekening koran , namun apabila counter jaminan yg disepakati adalah BG dari bank tertentu, sebelum menurunkan DP ataupun dana progres , Owner yang akan menurunkan Dana perlu adanya pemeriksaan BG terhadap keaslian/kevalidan pada bank penerbit. 

5 - Modus Uang Kordinasi 
Modus uang koordinasi sering terjadi pada Projek Pemerintahan PL/ Penunjukan langsung . Uang koordinasi ini memang susah dibuktikan apakah yg bersangkutan memang berwenang untuk menjatuhkan siapa pemenang proyek, tapi modus ini walau sangat riskan tapi sangat banyak peminatnya. Dan banyak lagi modus modus lainnya, uang koordinasi memang tidak lazim pada sebuah proyek , sebelum menurunkan uang koordinasi sebagai persyaratan owner, perlu di pastikan keabsahan proyek dengan pengecekkan perijinan ataupun status tanah dan perijinan pada proyek tersebut. 

6 - Modus Projek " DANA AMANAH "
yang mewajibkan kekontrakor bayar Uang dengan alasan Infaq dulu... dll

Intinya jangan layanin Projek yg pakai embel embel memberikan terlebih dahulu " uang jaminan pelaksanaan / uang orang dalam / Uang Jalan / atau Landing account / uang Fee setelah TTD kontrak. Perlu difahami bahwa penandatangan kontrak ataupun spk yg diterima belum bisa sepenuhnya menjamin bahwa proyek bisa dilaksanakan. Banyak kasus Spk dan kontrak telah diterbitkan namun proyek tidak berjalan, perlu adanya wawasan dan kejelasan dari sebuah proyek, mulai dari perijinan, imb, status tanah bahkan bila perlu memgetahui siapa pemilik dana dari proyek yg akan dikerjakan .

Fee dan lain lain baiknya diberikan setelah DP cair atau bila turnkey projek dengan jaminan pembayaran SKBDN, fee dikeluarkan setelah SKBDN dinyatakan Valid oleh Bank Kontraktor dan jika jaminan pembayaran Pakai BG... harus BG yg mengacu pasal 1832 KUHP... jangan yg 1831

Modus yg lain yg pernah dialami juga

1. Modus : SBLC (stand by LC), juga SDB (sertifikat deposito berjangka)
hrs mengeluarkan dana di block utk biaya admin dll.
2. Modus investor bawa bukti Bank Draft nilai ratusan M bahkan T.
3. Temen saya 5 bln lalu buka rekening bersama di bank BUMN : 5M, sampai sekarang partnernya raib uang jd terblokir

Modus yg hrs di waspadai :

A. tdk berani memberi kartu nama*
B. alamat tdk jelas
C. Rumah/kantor tdk menggambarkan orang punya duit/pengalaman.
D. Segala sesuatunya serba cepat / buru2.
E. Pertemuannya tdk mau di tempat yg ada cctv nya atau di luar kantor.
F. Schema berubah dengan tiba tiba.
G. Pembuktian perijinan dan status tanah proyek masih belum jelas.

Masih banyak lagiiii. Mudah2an bermanfaat.
Sekedar Sharing ... agar kita tidak menjalani Bisnis Yang Buang waktu dan ongkos dan dapat merugikan Diri sendiri & Orang Lain...```






Rabu, 27 Februari 2019

PERSONEL QHSE

Dalam penerapan ISO 9001 , OHSAS dan ISO 14001 di Perusahaan, dibutuhkan personel yang bertugas untuk mengembalikan track alur kerja lapangan terhadap penyimpangan, baik penyimpangan terhadap Mutu, ketidakdispilinan masalah K3 ataupun Konsentrasi terhadap lingkungan.

Beberapa petugas QHSE (Qualty Health Safety Environtment) yang ada pada saat ini, terfokus pada masalah K3 lapangan saja, yaitu fokus terhadap ketidak disiplinan penggunaan APD, Pembuatan Rambu rambu di Proyek ataupun Keselamatan dan kesehatan kerja yang lain. Namun sangat kurang terhadap pengawasan Mutu hasil kerja di lapangan dan pantauan terhadap lingkungan.

Beberapa pengamatan yang telah dilakukan, beberapa hal bisa disimpulkan disebabkan :
  1. Tidak jelasnya Jobdes petugas QHSE dilapangan, sehingga wewenang dan tanggung jawab yang menjadi acuan kerja masih terlihat belum terfahami dengan baik.
  2. Tidak tersedianya IK (Instruksi Kerja) dilapangan yang bisa dijadikan acuan terhadap Mutu kerja. 
  3. Belum komplitnya IK yang disusun beserta critical list terhadap paket paket pekerjaan , sehingga tidak bisa diterapkan 
  4. Tidak dibekali pengetahuan sebagai personel Auditor dan Kurangnya item pelaporan.
  5. Belum adanya Prosedur tersendiri atau IK terkait pelaksanaan team QHSE
Dari beberapa hal tersebut diatas, Maka perlunya beberapa tindakan diantaranya :
  • Menambah wawasan Petugas QHSE dengan On job training ataupun eksternal training terkait Materi Materi Quality, Health , Safety dan Environtment
  • Membuat IK QHSE ataupun prosedur kerja tersendiri personel QHSE
  • Memberikan Panduan Instruksi Kerja dan Critical list lapangan tiap paket, bila perlu dalam bentuk Buku saku
  • Meeting internal mingguan/bulanan terhadap temuan QHSE tiap proyek .
  • Membuat Form temuan discrevancy beserta penanganannya baik yg bersifat sementara maupun permanen.
  • Memberikan laporan kepada PM tiap tiap proyek terhadap temuan dan memberikan target waktu penyelesaian temuan . 
  • Mendapatkan Training sebagai Auditor.
  • Menjabarkan Temuan terhadap QHSE pada Safety Talk atau Tools Box Meeting setiap pagi serta menjelaskan pekerjaan yang Benar dan yang seharusnya kepada Pekerja.
Demikian gambaran secara umum yang harus dibenahi terkait kinerja personil QHSE dilapangan, agar Mutu, Kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungan bisa terkendali dengan baik.














Johar 20 , On Job 28.02.2019

Senin, 20 November 2017

MENGHADAPI SUBCON YG NAKAL

Terkadang dalam menyelesaikan sebuah proyek dibantu oleh Subcon , dan kadang tiap paket ditentukan 1 sampai 2 subcon agar pekerjaan tidak terkendala dalam pelaksanaan menuju target yg ditentukan .

Setelah diputuskan oleh team Procurement atau Team P3 , subcon yg memenuhi kriteria melaksanakan pekerjaan, diturunkanlah SPK untuk memulai pekerjaan . Berikut ini typikal Subcon
1. Subcon berserta Material (Subcon Besar)
2. Subcon dengan Material Bantu (Subcon menengah)
3. Subcon upah saja .(Subcon kecil).

Namun pada saat pelaksanaan , terkadang Subcon bermasalah pada cash flow mereka, sehingga beberapa kewajiban tidak terpenuhi. Adanya permasalahan cash flow pada Subcon juga bisa disebabkan adanya kontrak SPK yg Back to Back atau menghadapi PM (Project Manager) yang juga terlambat dalam memproses progres subcon yg dikarenakan beberapa sebab .

Untuk menghadapi permasalahan keterlambatan pembayaran kepada Subcon dilapangan , perlu kita tinjau dari sisi Internal dan Eksternal . Secara Internal artinya perlu pembenahan terhadap perilaku dan prosedur Internal dilapangan baik secara Jobdesc ataupun pembenahan Attitude personel .

Eksternal berarti adanya kendala pembayaran dari Owner yg mana harus ditelaah , adanya penundaan pembayaran owner ini disebabkan oleh kekurangan administrasi lapangan (BA , Drawing dll) ataukah yg murni disebabkan tergangunya cash flow owner .

Penundaan pembayaran Owner kepada kontraktor akan berdampak pada Sub contractor dibawahnya beserta supplier pendukung . Terlebih lagi untuk SPK yg bersifat Back to back, dimana pembayaran terhadap Sub Contractor bisa diturunkan apabila ada pembayaran dari owner .

Terkait pada permasalahan yg dihadapi oleh Subcon, prosedur tetap mengacu kepada Isi kontrak yg telah ditanda tangani bersama, dimana keadaan apapun tetap mengacu pada isi perjanjian legalitasnya.

Pada kondisi di lapangan, mengutamakan progres subcon agar pekerjaan tidak menemui kendala adalah hal utama yg harus diperhatikan oleh semua PM. Hubungan yg mutualisme diperlukan agar projects bisa selesai tepat waktu. Intinya apabila subcon bermasalah maka akan bermasalah pada pekerjaan yg harus diselesaikan, baik masalah waktu, biaya bahkan mutu.

Ada beberapa Subcon yg pada problem diatas , mengurangi jumlah tenaga kerja, ataupun mengurangi kebutuhan material, untuk menghadapi permasalahan tersebut, maka perlu diambil beberapa langkah berikut:

  1. Memberikan surat peringatan 1 sampai 2 atas kelalaian yg dilakukan .Beserta sanksi yg termaktub dalam perjanjian kontrak . 
  2. Membuat Final account dan Mapping yg mana data ini juga bisa dipakai untuk menghitung sisa pekerjaan apabila pekerjaan dilimpahkan kepada Sub Contractor lain .
  3. Apabila tidak mengindahkan instruksi atas peringatan 1 dan 2 Maka sebagai main contraktor bisa memutuskan SPK secara sepihak berserta Sanksi denda yg harus ditanggung oleh Sub contraktor .
  4. Mencari pengganti Sub Contractor baru dengan Harga acuan dari sisa kontrak Final Account Sub Contractor terdahulu . 
Dalam pelaksanan hingga pemutusan Sub contractor tersebut semua surat surat yg telah diturunkan agar disimpan guna digunakan apabila ada tuntutan secara legal .



Rabu, 14 Juni 2017

CERITA DARI GLODOK

Project ini sebenarnya dulu pernah ditangani, akan tetapi adanya tugas untuk proyek Mattel Cikarang akhirnya sempat terabaikan .
Pada saat peninjauan kembali proyek ini setelah adanya teguran dan surat peringatan dari owner APG kepada presdir JTI sehingga semua direksi turun memantau proyek ini.
Pemantauan pertama tentang keterlambatan proyek terfocus pada ketiadaan orang pekerja pada beberapa lantai dan kekurangan material. Permasalahan klasik .
Dari beberapa pengamatan disimpulkan .
1. Belum adanya monitoring dan control tenaga kerja perlantai perpaket pekerjaan . (Methode)

2. Monitoring material yg dibutuhkan perlantai, persubcon perpaket. (Material,Methode dan Man)

3. Koordinasi dg pihak MK dan Owner kurang harmonis. (Man)

4. Banyaknya perubahan dari shop drawing yg telah diajukan dan sebagian menungu keputusan karena berkaitan dg subcon lain. (Methode)

Note :
beberapa celah kesalahan distribusi Shop drawing. Kadang gambar detail munculnya di gambar elekttonik. Seharusnya elektrikal juga punya gambar sendiri, paling tidak saling copy .As built tidak bisa seperti  ini. Harus punya detail sendiri sendiri
Kesalahan kedua gambar distribusi ke subcon hampir tidak ada approval . Alasan karena lembar approval gambar A1 . Akhirnya gambar diprint baru dari computer . Sebenarnya ini bukan alasan karena bisa dibawa keluar untuk copy menjadi A3 . (Ini root cause yg sebenarnya ).

5. Pekerjaan area sipil yg belum selesai (Methode).

6. Tenaga pelaksana supervisi yg tidak capable. (Man)

7. Engineer yg tidak capable. (Man)

8. Perubahan design project akibat keinginan customer. (Methode)

9. Kekompakan antar paket pekerjaan yg tidak solid. (Man)

10. Composite yg dituangkan antar paket belum memadai terhadap level plafon. (Methode)

11. Kurangnya tenaga QC dilapangan.(Man).

12. Material sering kurang dan belum adanya schedule material (Material, Man,Methode).

13. Gambar sering terlambat (Methode, Man)

14. Tenaga kerja kurang (Man)

15. Schedule resources tidak ada (Methode).

16. Prosedure sering tidak dijalankan (Man, Methode)

Beberapa action plan yang telah dijalankan dari beberapa temuan diatas diantaranya adalah :
1. Membuat tabel man power kebutuhan dan supplai man power tiap lantai dan tiap paket pekerjaan . Tabel ini memerlukan tingkat kedisiplinan Spv setiap hari untuk mengkontrol dan check serta update. Indikasi tidak ada man power dilapangan terlihat agar tindakan lanjutan bisa dilakukan.

2. Meminta logistik lapangan untuk mengupdate level stock material dilapangan untuk di reportkan kepada PM dan SM terutama untuk material yg tingkat permintaannya tinggi, termasuk material yg disupplai oleh subcon.

3. Perlu perhatian lebih terhadap relation dilapangan terutama MK dan Owner menyangkut sensitifitas dan isue isue enginering dan permasalahan lain.

4. Banyaknya perubahan perubahan menuntut team engineering bekerja lebih ekstra, untuk itu aktifnya engineering dilapangan beserta drafter sangat mempengaruhi terselesaikan permasalahan demi permasalahan.

5. Memang adanya keterlambatan pihak sipil terhadap proyek ini,namun seharusnya fokus terhadap pekerjaan yg bisa dilakukan .

6. Tenaga Supervisi tanpa Visi, bisa disebut seperti itu, datang ke proyek tanpa arahan , tanpa target ke pekerja dan subcon , sehingga apa yg menjadi goal pelaksanaan dilapangan sering tidak tercapai dikarenakan supervisi tanpa visi.

7. Engineer adalah person penting dalam sebuah project setelah Project Manager, lancar tidaknya sebuah project kadang ditentukan pula oleh seorang engineer, pada saat instruksi dilapangan yg hanya bisa dilakukan dengan pembacaan shop drawing, maka ketepatan dan kecepatan pembuatan gambar oleh drafter ditentukan klir tidaknya arahan dari engineer.

8. Dari uraian engineer item no 7 , berdampak pada perubahan design dari owner ataupun sebaliknya, adanya perubahan design dari owner maka engineer harus mengekspresikannya dalam bentuk gambar agar lapangan bisa di laksanakan.

9. Faktor solid tidaknya team juga sangat berpengaruh terhadap pekerjaan yg dilaksanakan, terutama pada saat komposit gambar , posisi mana yg harus diatas, ditengah ,samping dll ditentukan oleh kompaknya gambar komposite yg dibuat, ketidak kompakan team dalam pelaksanaan terutama ada yg ego dalam pelaksanaan maka akan menjadikan beberapa paket akan terhenti pelaksanaannya .

10. Hal yg sangat krusial dalam pembuatan komposite adalah level ketinggian plafon yg akan di set, adanya ketidak kompakan team akhirnya akan berpengaruh pada ketinggian level plafon.

11. Tidak adanya atau kurangnya tenaga QC dilapangan, akan berpengaruh pada kualitas pekerjaan. Adanya pekerjaan tanpa QC personel menjadikan pekerjaan Subcon asal jadi. Disamping hal tersebut juga masuknya barang yg tidak tercantum di spec kontrak sangat riskan terhadap kualitas pekerjaan .

12. Syarat terjadinya percepatan dalam.pelaksanaan project disamping Man power, maka faktor kedua yg dominan adalah Ketersediaan material dilapangan. Tanla adanya material maka pemborosan pembayaran gaji personel sudah pasti.

13. Keterlambatan gambar setelah diajukan, ataupun sebelum diajukan akan memperlambat pelaksanaan dilapangan. Adanya engineer dan drafter yg tidak capable akan menjadikan gambar kerja banyak revisi, selain tidak bisa mengeksekusi pekerjaan dilapangan, juga berpengaruh besar terhadap bongkar pasang nantinya .

14. Dalam hal perencanaan tenaga kerja yg dirasakan kurang, alasan dasar menentukan ini adalah dari ketersediaan material, siapnya shop drawing dan ijin kerja serta schedule yg telah dibuat . Salah satu unsur diatas terlambat maka efeknya adalah menentukan besaran tenaga kerja yg dibutuhkan agar pekerjaan sesuai jadwal.

15. Schedule resources disini di fokuskan pada breakdown masih masing item kerja, sehingga masing masing paket pekerjaan bisa balance terlaksana secara bersamaan. Contohnya pada paket pekerjaan pemasangan pipa chiller , bila resources yg tersedia tidak berkesinambungan pada item pekerjaan fabrikasi maka akan mempengaruhi item item pekerjaan selanjutnya .

16. Tidak berjalannya prosedur lapangan, sangat berpengaruh terhadap kinerja dan kemampuan team proyek dalam menjalankan proyek. Prosedur lapangan bisa dibaca pada ulasan sebelumnya, seperti pembuatan IPL (ijin pelaksanaan lapangan). Monitoring Shop drawing . Dll.



Selasa, 17 Januari 2017

PROYEK BALI

Direksi meeting tgl 12.01.2017 yang diadakan di Proyek Indigo bali, semua kontraktor diundang dalam hal pembahasan yang berkisar kearah schedul pelaksanaan penyelesaian Proyek. Dari jangka waktu pelaksanaan yang seharusnya diselesaikan pada bulan Mei 2016, sampai dengan bulan ini masih belum mencapai progress 100%. ADa beberapa kendala lapangan yang awalnya terkait pada pembayaran progress semua subcon yg akhrnya berdampak pada mundurnya schedule pelaksanaan . Ditinjau dari permasalahan yang ada dikategorikan dalam 2 katagori permasalahan yaitu : 
1. Permasalahan Internal team
2. Permasalahan External

PERMASALAHAN INTERNAL
A. Perpanjangan waktu dg biaya prelim yg belum final .
Yang paling dominan dalam masalah internal adalah efek dari kemunduran pekerjaan dari jangka waktu kontrak 3 bulan menjadi 1 tahun, sangat dirasakan oleh subcon . Mengingat jangka waktu perpanjangan dan belum adanya realisasi pembayaran pembayaran prelim dari owner mengakibatkan berkurangnya secara drastis jumlah personel. Untuk hal tersebut PM harus dg aktif mengirimkan surat kepada owner terkait perpanjangan waktu tersebut.

B. Tenaga staff lapangan yg kurang
Setelah mengundurkan diri salah seorang staff dg jabatan SM dilapangan, menjadikan tugas PM semakin berat. Yg tadinya bisa diwakilkan oleh SM untuk meeting engineer ataupun koordinasi ,akhirnya harus dihadiri oleh PM sendiri. PM dan Staff yang ada diproyek ini adalah PM, Drafter merangkap Engineer, SPV ,dan tenaga Admin merangkap SPV yg mana turun pada saat testing dilakukan .

C. Banyaknya BA test dan alur approval yg double check.
Banyaknya BA test terkait pada paket paket kontrak disamping memerlukan BA yg teliti juga tiap blok site memiliki inspector sendiri sendiri dg kebijakan yg berbeda. Membutuhkan fokus pembuatan BA yg tinggi agar proses approval tidak berulang .

D. Dukungan supplier
Dukungan supplier sudah seharusnya totalitas dalam pelaksanaan proyek . Salah satu contoh pembuatan Hipmap Wifi dimana keinginan owner terkait optimalisasi posisi Wifi yg memerlukan totalitas dukungan supplier , perlunya PM memilah dan mengambil langkah yg tepat terkait dengan tambahan pekerjaan yg akan dilakukan oleh subcon ataupun supplier untuk mendapat dasar legalitas dalam menurunkan SI (Site Instruction). 
.
PERMASALAHAN EKSTERNAL
A. Owner payment
Lamanya pembayaran owner atas progress yg diajukan akan berdampak pada cash flow project. Seyodyanya pembayaran owner yg kontinyu diharapkan dapat membantu rutinitas pembayaran ke subcon dan supplier.

B. Prosedur approval yg berulang
Adanya approval check BA (berita acara) pada saat pengajuan progress membuat alur approval progress membutuhkan waktu yg lama, belum lagi apabila pada saat pengajuan ada inspector owner yg berhalangan hadir atau tidak bisa melakukan approval dokumen kelengkapan progress. Pada project Bali ini pengajuan awal yg ditujukan kepada inspector bisa dua kali approval setelah LSI melakukan koreksi. Seharusnya hal tersebut tidak diperlukan . Pengajuan progress sampai dengan approval bisa memakan waktu rata rata 1 bulan tiap pengajuan .

C. Adanya personel yg cuti seminggu setiap bulan.
Adanya personel dg posisi yg sangat berpengaruh pada kecepatan progress namun pada minggu ke IV setiap bulan cuti, apabila pengajuan progress tepat pada minggu tsb otomatis mundur selama seminggu.

D. Koordinasi antar Operator dan Owner yg berbeda persepsi .
Seringnya JTI menemui hambatan pada saat pelaksanaan adalah disaat operator Hotel dan Owner berbeda persepsi dg pekerjaan yg terpasang. Maka perlunya list pekerjaan yg ditanda tangani kedua pihak sebelum diturunkan ke pihak JTI adalah sangat penting . Sebagai bahan eksekusi pekerjaan dilapangan.

E.Media komunikasi yg tidak terekord
Seringnya meeting dan memutuskan ketetapan pekerjaan yg harus dilaksanakan di lapangan, namun tidak didukung oleh media record ataupun MoM, sehingga apa yg sudah ditetapkan menjadi bahasa verbal yg tidak bisa dipertanggung jawabkan , Sebagai PM dilapangan adalah memastikan pekerjaan dengan instruksi yg jelas (Tidak boleh hanya verbal), untuk hal tersebut bisa dengan meminta Memo lapangan, approval pada shop drawing yg dirubah ataupun media pencatatan yg lain yg terlikuiditas.

F. Sebuah progress dengan 8 buah approval
Melihat sebuah progress dengan 8 buah tanda tangan membuktikan bahwa proses check memakan waktu yg tidak sedikit. tidak effisiensinya proses approval ini bisa dikarenakan kehati hatian owner dalam melakukan proses validitas menuju pembayaran subcon atau bisa juga penundaan pembayaran yg direkayasa .


Seminyak Double six 12.01.2017

Kamis, 06 Oktober 2016

FAKTOR PENGHAMBAT PERCEPATAN PADA PROJECT JABABEKA

Beberapa hal yg menghambat pada proses percepatan proyek Jababeka adalah :
1. Team yg tidak full
Istilah team tidak full disini adalah kekurangan salah satu posisi yg dibutuhkan dalam satu project. Untuk project Jababeka posisi posisi yg kosong tersebut adalah Engineer dan drafter. Ketiadaan personel pada posisi tersebut menjadikan projek tidak prosedural, dimana proses approval desain dan shop drawing yg dibutuhkan dalam pelaksanaan lapangan mis sehingga terjadinya beberapa perubahan instruksi dilapangan, dan terjadinya bongkar pasang pekerjaan menjadi salah satu penghambat lajunya penyelesaian .

2. Penyimpangan yg terlalu jauh antara BQ kontrak dan gambar tender.
Penurunan satu paket pekerjaan yg berdasarkan BQ tanpa memberikan gambar tender akan menjadikan pertanyaan pada saat pelaksanaan lapangan. Adanya beberapa pekerjaan yg akan dianggap sebagai pekerjaan tambah oleh Subcon akan menjadikan penghambat pada pelaksanaan apabila tidak diputuskan segera. Ketiadaan gambar akan menjadikan komparasi status antara BQ dg kondisi terpasang dilapangan. Apabila kondisi terpasang lebih banyak akan menjadikan pengajuan melebihi budget project, apabila tidak diimbangi oleh pengajuan pekerjaan tambah atas deviasi yg terjadi. Untuk hal tersebut dibutuhkan Quality surveyor yg jeli melihat antara BQ dan aktual apalagi pekerjaan tidak bersifat lump sump.

3.Adanya banyak instruksi bypass
Ketiadaan approval atas shopdrawing resmi akan menjadikan gambar gambar lapangan tidak memiliki kekuatan , ditambah apabila ada beberapa gambar yg direvisi maka akan menjadikan lebih komplek, antara penarikan gambar terdahulu dg pendistribusian gambar baru. Biasanya untuk mencoba membenarkan hal tersebut akan ada banyak instruksi by pass ,baik yg akan diinstruksikan oleh konsultan ataupun owner. Dan turunnya SI untuk mengisi kekurangan dari design yg tidak lengkap

4.Akan adanya banyak permintaan material yg salah atau kurang.
Desain yg tidak akurat dan adanya beberapa kali revisi akan mengakibatkan banyaknya permintaan material yg salah atau bahkan kurang, hal tersebut berpengaruh sekali pada waktu pelaksanaan project, apalagi project dg tenggat waktu yg singkat. Sampai akhir proyek akan banyak dikeluarkan S.I , banyaknya Material yg berlebihan serta adanya material yg tidak diperlukan. Untuk mengurangi hal tersebut perlunya team logistik yg kuat, bahkan yg bisa memenuhi permintaan dalam waktu jam saja. Adanya konsep konsep inventory menjadi tidak berlaku.

5.Sepenuhnya mengandalkan team konsultan
Konsultan adalah team yg sangat dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan yg diinstruksikan, terlepas adanya gambar atau tidak,akhirnya menjadikan team konsultan sebagai pengawas project secara langsung. Keberadaan PM akan menjadikan pelengkap antara kebutuhan pekerja lapangan dan ketersediaan material dilapangan.

6.Penambahan pekerjaan tanpa memperpanjang waktu pelaksanaan
Turunnya instruksi instruksi yang diturunkan dengan status Urgent tanpa menambah jangka waktu pelaksanaan , akan mempengaruhi pos pos pekerjaan yg lain terlebih lagi adanya pekerjaan tambahan tersebut tanpa menambah personel..

7.Koordinasi SIPIL dan ME
Dalam pelaksanaan proyek koordinasi antar paket pekerjaan sangat penting, terlebih lagi bila dalam satu pekerjaan terkait banyak pekerjaan, biasanya kita bagi dalam paket ME dan sipil. Pada prosesnya kendala kendala dan urutan pekerjaan harus lebih jelas terkait paket yg termaktub dalam pekerjaan. Urutan pekerjaan skala prioritas dan tgl finish menjadi awal pelaksanaan paket setelahnya, terkait dengan pengadaan material harus sudah berada didalam plan schedule.

Ditulis di Jababeka I .
25.10.2016

Jumat, 30 September 2016

CERITA DARI JABABEKA

Pertama kali diterjunkan di proyek ini berat rasanya, karena harus mengikuti aturan K3 yg berbelit belit seperti kudu ganti sepatu safety, ikut TBM , induksi, harus kontrol dan keliling pabrik yg luas, menemui debu bongkaran yg gatal ..hemm sebuah tantangan.

Setelah bertahan 3 hari baru terasa ritme kerja dari team yang belum kompak , yang merupakan salah satu target yg harus diselesaikan .
Dengan beberapa kali terjadinya penurunan jumlah tenaga kerja juga menjadi perhatian , belum lagi ditambah adanya jam coffe break yang sama sekali tidak berguna, mengapa ? Karena masuk jam 08.00 setelah itu break jam 10.00 lalu istirahat jam 11.30 , pikir saja berapa waktu yg terbuang, padahal project ini fast track dimana waktu tinggal sebulan lagi.

Melihat beberapa hal seperti :
1. Progress yg lambat kenaikannya.
2. Material yg lama datangnya .
3. Sequence kerja yg tidak berurutan dan saling tunggu.
4. Man power yg kurang dan tidak skill
5. Tenaga supervisi yg minim
6. Koordinasi dg pihak konsultant dan owner yg buruk.
7. Peralatan kerja yg kurang
8. Fasilitas kerja yg minim.
9. Ijin kerja yg lama, untuk mengajukan ijin kerja pemasangan fire fighting harus drain air di pipa, dan ijin harus dimintakan minim 2 hari dari tanggal pelaksanaan.
10. Adanya beberapa area yg belum putus dari segi desain sampai rev ke 22.
11. Turunnya beberapa S.I yang mempengaruhi interval waktu kontrak utama
12. Pekerjaan ini adalah renov, dalam kata lain kita harus membongkarnya terlebih dahulu baru membangun yg baru.

Beberapa subcon berkerja seperti keong, membuat otak dan pikiran jadi stress....

Melihat situasi demikian ,setelah menguraikan beberapa situasi yg dianggap mempengaruhi interval dan ritme kerja langkah langkah yg diambil diantaranya adalah sbb :

1. Progres yang lambat kenaikannya .
Mungkin perlu melihat lagi secara keseluruhan dari paket yg kita terima, mapping pada setiap paket amatlah sangat diperlukan, sehingga diketahui paket pekerjaan yg mana, yg perlu mendapat perhatian. Uraikan permasalahan dengan theory Fishbone diagram dan temukan kesalahan utama. Namun dari sisi perhitungan BQ juga perlu direview apakah ada kesalahan aritmetik dalam memasukkan angka angka, terutama melihat kembali apakah ada MoS pada kesepakatan kontrak yg bisa mendongkrak progres tersebut.

2. Material yg lama datangnya.
Melihat permasalahan klasik ini rasanya selalu ada dalam setiap project, apakah itu terkait dengan masalah pembayaran Subcon ataupun kesalahan team logistik dalam systematis kerjanya, memang sudah seharusnya permasalahan keterlambatan material ini diminimize agar laju percepatan pekerjaan di project tidak terhambat. Yg lebih penting lagi adalah bagaimana team lapangan dalam menjabarkan BQ dan gambar sehingga permintaan material bisa akurat .

3.Sequence kerja yg tidak berurutan dan saling tunggu.
Sequence kerja adalah hal yg sangat penting dalam pelaksanaan proyek. Untuk hal ini diperlukan kepiawaian seorang PM bagaimana mengurutkan pekerjaan pada action plan, baik action plan mingguan, bulanan, bahkan dalam action plan keseluruhan. Adanya ketelitian dalam membaca Curva S baik dalam menguraikan sequence per sequence juga harus melihat item item pekerjaan instalasi dan equipment.
Adanya area bongkaran dalam kontrak dalam beberapa paket pekerjaan sebaiknya dipisahkan pada beberapa subcon.
Paket bongkaran masuk dalam pekerjaan subcon adalah hal yg menjadikan subcon saling tunggu,saling tunjuk,dan saling menyalahkan. Perlu dirubah system kedepan dimana paket bongkaran seharusnya menjadi satu paket pekerjaan tersendiri .

4.Man power yang kurang dan tidak skill
Sudah menjadi kebiasaan , dalam memenuhi jumlah pekerja dan mengejar angka yg diharapkan oleh owner, terkadang mandor mangambil tenaga yg unskill ,selain jumlahnya yg kurang terutama dalam pekerjaan fast track , skill pekerja yg tidak mumpuni juga mengakibatkan progress berjalan sangat lambat, ada baiknya kita bisa membuka mata para subcon bahwa banyaknya tenaga kerja tanpa skill adalah pemborosan . Kecuali pekerjaan itu banyak yg tidak memerlukan tenaga skill seperti pekerja pengangkut ataupun tenaga kasar seperti kebersihan. Tapi apakah perlu sebanyak itu. Hal ini yg perlu di review.

5. Tenaga supervisi yg minim
Dalam hal pengadaan tenaga skill sebenernya berbanding lurus dengan pengadaan supervisi, yg mengarahkan sesuai shop drawing ataupun squence kerja yg dibutuhkan. Tenaga supervisi yg minim sama dengan kita mengerahkan jumlah tenaga yg banyak tapi unskill .

6.Koordinasi dengan pihak Konsultant dan Owner.
Salah satu unsur dalam manajemen proyek yg penting adalah Manajemen komunikasi, Manajemen komunikasi tidak hanya di harfiahkan dalam komunikasi verbal namun instruksi instruksi dalam bentuk memo, site memo,surat masuk, form form termasuk dalam manajemen komunikasi. Kurangnya komunikasi dan koordinasi dengan pihak Konsultant dan Owner menjadikan miss dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain itu hal yg penting adalah pelaporan pihak kontraktor ke Owner diantaranya laporan harian,mingguan,bulanan dll agar komunikasi berjalan dua arah .

7. Peralatan kerja yg kurang
Banyaknya pekerja tanpa peralatan yg dibutuhkan, ataupun saling pinjam antar pekerja merupakan salah satu penghambat dalam percepatan pelaksanaan proyek.

8. Fasilitas kerja yg kurang
Fasilitas kerja kita bedakan dengan peralatan kerja, fasilitas kerja bisa berarti hal hal yg ikut menunjang suatu pekerjaan seperti lampu kerja,listrik kerja, scafolding, catwalk, dll. Bayangkan saja ada pekerjaan diketinggian namun kurang atau bahkan tidak ada scafolding. Mungkinkah pekerjaan tersebut bisa dilaksanakan. Pengadaan scafolding ditiap area akan memudahkan pekerja melakukan pekerjaan di area ketinggian. Namun ingat untuk safety tetap gunakan bodyharnes dan itu juga merupakan fasilitas kerja.

9.Ijin kerja
Kita harus bisa memprediksi berapa lama sebuah ijin kerja yg dikeluarkan oleh pihak owner, seandainya ijin kerja diperlukan 2 hari ,maka untuk melakukan pekerjaan yg memerlukan ijin kerja, ijin kerja dimasukkan H-2.

10.Area yg belum final dari sisi desain
Perlunya koordinasi dan komunikasi intensif dengan pihak konsultan dan owner dalam mengatasi hal ini. Adanya desain yg mempengaruhi waktu pelaksanaan perlu untuk dilayangkan surat permohonan pengunduran waktu pelaksanaan.

11.Turunnya beberapa S.I yang baru
Bukannya kita tidak suka dengan turunnya S.I , karena turunnya SI identik dengan penambahan pemasukan bagi perusahaan, namun perlu diperhatikan, apakah turunnya SI mempengaruhi waktu pelaksanaan . Apabila Ya maka kita wajib meminta penambahan waktu penyelesaian.

12. Proyek Renovasi
Ada kelebihan dan kekurangan untuk proyek renovasi , yaitu pada masalah pembongkaran bangunan ataupun instalasi yg lama. Proyek renov memiliki tingkat kesulitan yg jauh lebih tinggi terlebih lagi apabila pengaturan sequence pelaksanaan yg buruk . Apabila salah yg harusnya tidak dibongkar bisa menjadi terbongkar. Namun ada sisi keuntungannya juga yaitu material yg bisa digunakan bisa kita manfaatkan untuk mengurangi biaya pengadaan material,namun tentu saja semua harus dengan ijin owner dalam pelaksanaannya .

Jababeka 1 cikarang industrial park

Sabtu, 03 Oktober 2015

DONT PANIC GUYS....SEMUA MASALAH DISELESAIKAN ONE BY ONE


Tidak ada satu keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan dengan kepanikan .Bisa bisa malah merugikan diri sendiri dari tindakan yang dilakukan dengan Panik .Ambil contoh seperti Cerita dibawah ini :

Dua orang saling bersahabat sedang jalan jalan menuju puncak, Sebut saja Tono dan Toni. Mereka berdua menaiki kendaraan Mobil dengan kecepatan 80 KM per Jam. Dan kebetulan yang menjadi Driver pada saat itu adalah Tono dan mereka melakukan bergantian .

Waktu telah menunjukkan jam 22.00 WIB , dan perjalanan mereka sepertinya akan sampai pada tujuan mereka yaitu Sebuah Villa .
" AYo Tono..buruan Gas nya...udah malem banget Nih..." ujar Toni sambil melihat Jam dipergelangan .
Tikungan yang kesekian Tono mempercepat laju kendaraan sampai 120 KM/Jam .
Lalu Tiba Tiba.....Seorang gadis berpakaian mini melintas.....citttttttttttttttttttttt...brakkkkk.....Derit ban di rem terdengar nyaring . Dan tampak Tono wajahnya Pucat pasi menghadapi kejadian tersebut .
"Kita kabur aja ya  Toni....." Kata tono setengah berbisik ..."Gue kalap nih...." timpalnya lagi.....

Posisi paniknya Tono tersebut , tidak akan menemukan jalan keluar yang baik, dalam pikirannya hanya terbersit satu tindakan  yang menguntungkan dirinya pada saat itu . Namun apa yang bisa kita tangkap dari pemikiran Toni .
"Sebaiknya Jangan kabur Tono...mending kita pinggirkan kendaraan...dan kita lihat Korban, apakah bisa kita selamatkan ..." Toni berucap, Dan seperti itulah Pemikiran Orang yang tidak dalam kondisi menghadapi masalah .

Ada beberapa hal dari pemikiran Toni yang bisa kita temukan akhir ceritanya , adalah :
  1. Dengan melihat korban dan bukan melarikan diri, maka akan bisa diputuskan apakah Korban bisa dibawa kerumah sakit untuk dilakukan pertolongan , Seandainya masih sempat tertolong maka penyelesaian secara musyawarah bisa dilakukan ..
  2. Apabila melarikan diri, akan tetap mempertanggungkan perbuatan tersebut bahkan dengan sanksi yang lebih berat . Kalaupun bisa terlepas dari sansi polisi belum tentu bisa terlepas dari perasaan bersalah yang akan dibawa seumur hidup .
Perbedaan perlakuan antara memutuskan dalam kondisi Panik dan kondisi dengan pemikiran tenang sangat berbeda dari sisi hasil . Jadi berpikirlah tenang dalam menghadapi semua permasalahan bahkan bila memungkinkan dipikir berulang kali .

Pepatah seorang Tukang Jahit : Mengukur sepuluh kali baru memotong sekali ...Jadi jangan Mengukur sekali dan memotong sepuluh kali, bisa bisa tidak pernah jadi akhirnya ..

Goodluck Gaess.....
Johar 10, habis makan siang ama nasi padang .....14.06 wib


Jumat, 02 Oktober 2015

PROJECT MANAGER YANG BELAJAR MANAJEMEN PROYEK

Kalau dibilang project manager baru tapi kok sudah pernah memimpin
 beberapa proyek dengan sukses dan menghasilkan contribusi yg 
cukup besar, tapi begitu diminta untuk menjabarkan manajemen proyek
 jawabannya masih ba..bi..bu...

Sampai suatu ketika para direksi berembuk tentang akan masuknya tenaga asing yang akan menjadi Project project manager pada proyek proyek diindonesia, terlintaslah pemikiran untuk memberikan pelatihan dan sertifikasi pada Project Manager di perusahaan .


PELATIHAN

What is the Project ?. sang instruktur memberikan pertanyaan, yang dijawab dengan keheningan seluruh isi kelas dan saling berpandangan sesama....semenit..dua menit...hening dan ga ada yg bisa...saking gemesnya akhirnya sang instruktur menjabarkan apa maksud dari sebuah Proyek .

Sebuah proyek adalah sebuah kegiatan atau proses yang dibatasi oleh waktu, dan memiliki keunikkan dimana tidak ada sebuah proyek yang sama .

Mendengar ulasan sang instruktur semua para PM manggut manggut karena selama ini mereka hanya tahu kerja yang namanya proyek tanpa tahu apa definisi proyek yang sebenarnya...trus siapa yang salah..? ya tidak ada yang salah....selama para PM tersebut tetap memberikan kontribusi keuntungan kepada perusahaan , tapi bila jawabannya efektifkah sudah selama ini, mungkin itu yang harus dicari jawabnnya....


MELIHAT SUMBER MASALAH DITEMPAT YANG SALAH

Kontribusi dari setiap proyek dengan para Project managernya (dalam tanda kutip) memang berbeda beda walau target yang ditetapkan perusahaan sebesar minimum 10% sering terlampaui, tapi coba direnungkan seandainya PM tersebut menguasai ilmu manajemen yg dari tadi instrukturnya berusaha memancing suasana agar para PM benar benar mengerti  tentang apa yg diuraikan.

Namun sebagai catatan ada memang beberapa proyek yang tersandung dianggap rugi dan menimbulkan efek tidak berlanjutnya Customer menggunakan Jasa perusahaan pada proyek selanjutnya , trus kalau sudah sesperti itu siapa yang disalahkan ?. Sudah pasti Proyek dan orang orangnya...Kenapa terlambat, Kenapa salah hitung, kenapa salah pasang, kenapa orangnya sedikit, kenapa ga ada schedule....dan mungkin sejuta kenapa kenapa lagi yang dilontarkan kepada PM .

Bila PM sudah membuat Planning yang baik dengan acuan BQ kontrak yang dia terima, diutak atik smalaman hinggga jadi S-Curve yang membiru pada awalnya dan setelah itu memerah karena progressnya terlambat, dan para subcon berteriak sampai ke SMS, BBM dan Whatsaap .

Rasanya kalau menjatuhkan Vonis begitu saja kepada PM seperti mencari ikan di lapangan bola. Bila system Material yang mendatangkan adalah PMO, yang memilih SUBCON juga PMO (Project Manager Office) , lalu salahnya PM tanpa O dimana ?.

Coba kita mulai berhitung tentang waktu Lead time sebuah proses dari penerbitan SPPB saja dulu ... terus siapa yang mencatat berapa lama...Lalu adakah yang perhatikan masalah tersebut sebelum pindah kepada root cause yang lain ?



BEBERAPA PENYEBAB KETERLAMBATAN YANG SALING TERKAIT 




bila melihat urutan proses dari pembuatan RAPP berlanjut kepada pemilihan subcon , pembelian material dan ekesekusi dilapangan maka beberapa faktor berikut adalah faktor faktor yang sangat berpengaruh pada percepatan pelaksanaan Project :


  1. Keterlambatan pihak sales mengupdate RAP sehingga kode proyek belum muncul pada system Epicor sementara pihak Enggineering masih menunggu Kode proyek untuk melakukan pembelian material ataupun penetapan harga Awal pemilihan Subcon .
  2. Setelah Update RAP dan Munculnya Kode proyek , keterlambatan bisa dipicu juga oleh lamanya autorisasi yang membutuhkan tanda tangan dari pengguna - Manager - Kadiv sampai Direksi dan masuk ke Cost control . Seringnya beberapa dokumen harus bolak balik dari cost control ke Pengguna dikarenakan beberapa dokumen pendukung yang belum lengkap, birokrasi yang berbelit ini mengurangi schedule pelaksanaan proyek secara tidak langsung namun sangat berpengaruh pada pemborosan tenaga kerja yg standby karena ketiadaan material .
  3. Setelah faktor internal diselesaikan , kendala pada faktor eksternal juga berpengaruh pada pelaksanaan proyek seperti Material Approval, shop drawing approval yang juga bisa berawal pada submit brosur dari PMO ke PM .
  4. Faktor eksternal yang lain adalah menunggu approval pihak MK dan Owner yang mana dalam memutuskan spec dan produk masih perlu beberapa diskusi dan perpanjangan waktu, untuk antisipasi hal ini Monitoring Dokumen Durasi sangat diperlukan .
  5. Apabila pada saat pelaksanaan Kick Off meeting Lahan yang bisa dikerjakan sangat luas dan Lega..(.kalau di MEP proses pengerjaan dimana belum ada dinding sangat disukai pada proses Piping dan Wiring..) Maka dengan adanya keterlambatan akibat proses 1-4 diatas maka pelaksaan menjadi banyak halangan Dinding dan proses pekerjaan menjadi bertambah dengan Proses Boring dinding dan mencari alternatif jalur lain .Waktu proses otomatis bertambah dan kebutuhan tenaga bertambah pula.



BEKERJA DENGAN SMART

Menemukan beberapa kendala seperti itu adalah tantangan untuk menyelesaikan . Menggunakan filosophy SMART untuk pemecahan masalah tersebut sangat tepat . Terus..apa yang dimaksud dengan SMART itu sendiri adalah :
  • S - Spesific Artinya Dalam penanganan kasus tertentu maka dibutuhkan keahlian tertentu pula, bisa jadi orang yang akan melakukan perubahan juga bukanlah orang yang sembarangan atau yang memang bisa memecahkan masalah tersebut .
  • M - Measurable artinya terukur, terukur ini bisa dikatagorikan bahwa penyelesaiannya bisa kita lakukan dengan kemampuan yang optimal .
  • A - Attainable artinya dapat dicapai dan bukan sesuatu yang mustahil
  • R - Realistic artinya bisa terjadi 
  • T - Timely artinya memiliki jangka waktu tertentu dalam proses pencapainnya . dan bukan sesuatu yang tidak terukur .




Beberapa kasus memang bisa diselesaikan dengan beberapa metode dan akan dijabarkan dalam penjelasan berikutnya . Sekarang istirahat dulu ya....

Malam sabtu 18.09.2015 Kebon Sirih deket OCHA dan BELLA





        

Rabu, 26 Agustus 2015

Cerita dari Pak Dwi

Untuk "berpikir positif" kalau boleh, saya mau sharing nasihat berupa cerita yang pernah saya dapatkan di tv.

Langsung aja deh:
Ada 2 orang petani di daerah yang berbeda namun memiliki nasib yang hampir sama, yakni sama-sama sedang kesulitan panen akibat kemarau panjang yang tidak berujung. Namun ada sikap yang berbeda diantara 2 petani tersebut.

Petani yg pertama dia rajin berdoa kepada Tuhan untuk dapat diturunkan hujan, namun sekian lama dia dan keluarga kecilnya berdoa, hujan pun tetap tak kunjung datang dan akhirnya menyurutkan semangat nya dan berpasrah diri karena sudah merasa melakukan semuanya.

Petani kedua dia merasa kalau dia harus pergi ke ladang terus menggali tanah, menyebarkan bibit tanaman, dan sesekali dia pulang kerumah dan berdoa khusuk kepada Tuhan mengenai apa yang dikerjakan dan apa yang diinginkannya.

Pertanyaannya kira-kira Tuhan akan menurunkan hujan kepada siapa? Ternyata dugaan saya benar bahwa Tuhan akhirnya menurunkan hujan kepada petani kedua, karena Tuhan melihat bahwa petani tersebutlah yang pantas dan sudah siap menerima mukjizat dari-NYA. 

Inti dari ceritanya sih:
Jadi siapkan dulu "ladang" nya jika Tuhan ingin mengabulkan doa kita dan berpikirlah Positif kepada Tuhan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik sesuai dengan kesiapan kita.

Kira-kira gitu lah pak ceritanya..dan mungkin sudah banyak yang mendengar cerita ini, saya cuma ingin sharing menambahkan bahwa berpikir positif bukan hanya pada sesama manusia tapi juga yang terpenting berpikir positif kepada Tuhan.

Maap kalau belepotan. 

Note: ditunggu pak bustan kelanjutannya.. :)